Kamis, 10 April 2014

Anak Susah Makan

"Anakku ga mau makan".  Kata-kata merupakan keluhan yang paling sering keluar dari mulut ibu-ibu.   Sebenarnya bukan hal yang aneh kalo anak ga mau makan.  Problem ini dialami hampir oleh semua ibu.

Berbagai upaya dilakukan ibu untuk "memaksa" anaknya makan.  Mulai dari diberi vitamin, suplemen makanan, junk food, dll.  Seringkali ibu mengalami stress yang besar karena anaknya ga mau makan.  Akibatnya anak juga ikut-ikutan stress dan semakin tidak mau makan.

Saya juga mengalami problem itu.  Anak kedua saya susah sekali makan.  Maunya cuma makan pakai nasi, garam, dan kerupuk.  Malah kadang-kadang dia minta makan pakai ikan asin.  Anak saya tidak senang makan dengan lauk pauk yang bermacam-macam.  

Akhirnya saya mencoba memberi makanan yang di dalamnya sudah terdapat karbohidrat, protein dan sayur.  Misalnya macaroni schotel, pastel tutup, pepes nasi.  Di dalam makanan tersebut sudah terdapat karbohidrat (dari macaroni, pasta, kentang, dan nasi), protein (dari daging sapi atau ayam, telur, susu, keju, jamur), dan serat dari sayuran (misalnya wortel, brokoli, bayam, buncis).

Mungkin bunda pikir repot yah membuat makanan seperti macaroni schotel, pastel tutup dan pepes nasi.  Saya punya resep sederhana yang gampang sekali membuatnya.  Telur dadar yang saya isi dengan nasi dan sayuran.  Komplit kan ?  Ada karbohidrat, protein, dan serat.   Menyuapi anak dengan makanan-makanan tersebut juga tidak sulit.  Cukup dipotong kecil-kecil lalu ditusuk dengan garpu atau tusuk gigi.  Jadi anak tidak merasa seperti sedang makan.  Tetapi gizinya sudah terpenuhi.  

Tetapi jangan keseringan memberi makanan seperti itu ya.... Karena bagaimanapun juga anak kita perlu dilatih untuk makan secara "normal" seperti yang kita makan sehari-hari.

Jumat, 04 April 2014

Bangga menjadi Ibu Rumah Tangga

Profesi saya adalah ibu rumah tangga.  Banyak orang mempertanyakan, mengapa saya memilih profesi ini.

Kenapa jadi ibu rumah tangga, kan kamu sarjana ?  Rugi donk sekolah tinggi !!
Saya menuntut ilmu sampai jadi sarjana bukan untuk berkarir.  Tetapi supaya saya memiliki logika berpikir yang baik.  Sehingga memudahkan saya dalam mendidik anak dan membimbing anak belajar.

Kalo kamu bekerja, bisa membantu keuangan suami !!
Memang saya tidak punya penghasilan.  Tetapi saya bisa membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga.  Kalo saya di rumah, saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga jadi bisa mengurangi biaya untuk pembantu rumah tangga,  Saya masak sendiri.  Pastinya belanja tiap hari lebih hemat.  Saya juga bisa membantu anak belajar, sehingga anak tidak perlu mengikuti bimbingan belajar.  Saya bisa mengantar anak sekolah, sehingga mengurangi biaya antar jemput sekolah.

Ibu rumah tangga itu kurang pergaulan lho !!
Memang benar pergaulan saya tidak seperti wanita karir.  Cara berbusana saya juga berbeda.  Tapi saya tetap bisa bersosialisasi dengan tetangga, mengikuti pengajian dan arisan warga.  Saya juga bisa bersosialisasi dengan orang tua murid di sekolah anak saya.  Soal busana memang tidak seperti wanita karir yang setiap kali harus berdandan rapi ke kantor.  Tapi ada untungnya juga lho.... Lebih hemat.

Anak-anak sudah besar, apa kamu tidak berpikir untuk bekerja ?
Memang banyak ibu yang tidak bekerja karena masih memiliki balita.  Setelah anak mulai sekolah, ibu pun mulai bekerja di luar rumah.  Sebenarnya di sepanjang usia anak mereka membutuhkan ibu.  Waktu mereka kecil mereka membutuhkan ibu untuk memberi makan, memandikan, mengajar membaca dll.  Setelah mereka besar, mereka membutuhkan ibu untuk teman bicara, untuk meluapkan kekesalan, kesedihan dan kebahagian.  Saya ingin selalu ada di saat anak membutuhkan saya. Dan kapan anak membutuhkan saya, tidak dapat dipastikan waktunya.  Masa puber sampai remaja adalah masa yang sangat kritis.  Mereka sangat memerlukan orang tua untuk mengarahkan dirinya ke hal-hal yang baik.  Jangan sampai mereka salah langkah karena mengikuti pendapat teman-temannya.


Apakah ibu rumah tangga pasti lebih baik mengurus rumah daripada ibu bekerja ?
Tidak dapat dipastikan seorang ibu rumah tangga lebih baik daripada ibu bekerja.  Ibu yang tidak bekerja harus benar-benar mengurus keluarganya.  Bukan sibuk arisan atau jalan-jalan.  Jadi harus ada komitmen untuk menjadi ibu rumah tangga, sehingga tugas ini dapat dijalankan dengan istiqomah.

Apa sih tujuan kamu menjadi ibu rumah tangga ?
Kita hidup dengan tugas dan amanah masing-masing.  Menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anak saya adalah amanah yang Allah berikan ke saya.  Saya akan menjaga titipan Allah dengan sebaik-baiknya.  Saya ingin Allah senang karena saya menjaga amanahnya dengan baik.  Karena suatu saat saya harus mempertanggung jawabkan tugas saya.  Menjadi ibu rumah tangga adalah jihad saya.


Ibu rumah tangga adalah profesi yang tidak digaji, tidak ada cuti, dengan jam kerja 24 jam sehari.  Tidak semua orang mampu menjalankannya.  Jadi banggalah menjadi seorang ibu rumah tangga.

Mengapa Pilih Sekolah Negeri ??

Sebentar lagi tahun ajaran baru dimulai.  Orang tua sering bingung memilih sekolah.  Mau sekolah di negeri, swasta, IT, atau  pesantren ? Semua pilihan tergantung bunda dan ananda.  Kalo saya memilih sekolah negeri.  Banyak orang bertanya, kenapa sih milih sekolah negeri. Mengapa?  

Menurut saya sekolah di sekolah negeri lebih menantang.  Anak berada di luar zona nyaman. Rasio guru dan siswa lebih besar. Teman-teman lebih beragam, baik secara tingkat ekonomi, suku, dan agama.  Sehingga anak-anak dituntut untuk matang dalam belajar dan dalam pergaulan.

Alasan kedua tentu saja masalah biaya.  Sekolah di sekolah negeri lebih murah daripada di sekolah swasta.

Tetapi kita juga harus selektif dalam memilih sekolah negeri.  Pertama perhatikan reputasi sekolah, baik dari sisi prestasi maupun sisi negatif seperti tawuran.  Pilihlah sekolah negeri dengan peringkat yang baik.  Karena sekolah khususnya SMA yang memiliki peringkat yang baik lebih memiliki peluang yang lebih tinggi untuk masuk PTN.

Selamat memilih sekolah ...... 

Kamis, 03 April 2014

Menghadapi UN

Sebentar lagi anak-anak kita menghadapi UN.  Tidak perlu panik menghadapi UN.  Saya punya beberapa tips buat orang tua yang anaknya akan menghadapi UN.

Katakan pada anak : 
"UN bukan sesuatu yang menakutkan.  Mama juga dulu menjalani ebtanas.  Nilai NEM juga digunakan untuk masuk SMP atau SMA.  Tapi mama ga panik.  Padahal dulu ga ada kisi-kisi dari pemerintah.  Jadi semua materi harus dipelajari.  Sekarang lebih mudah, kisi-kisi sudah diberikan.  Materi yang dipelajari bisa lebih difokuskan sesuai kisi-kisi."

"Ga usah stress menghadapi UN.  Wajar kalo anak sekolah harus diuji.  Yang namanya mau naik tingkat harus ditest dulu kan.... "

"Jangan nyontek ya nak... Utamakan kejujuran.  Kan adek sudah belajar, jadi ga usah nyontek.  Ga usah cari-cari bocoran.  Percuma aja adek belajar di sekolah selama 6 tahun (di SD) atau 3 tahun (di SMP atau SMA) kalo pas ujian nyontek dan pake bocoran."

"Belajar itu adalah ibadah.  Fokuslah kepada proses.  Hasil itu urusan Allah.  Kalo adek sudah belajar dengan baik, insya Allah hasilnya juga baik.  Allah tidak pernah tidur, pasti melihat usaha adek. Kalau sekarang hasilnya kurang memuaskan tidak perlu kecewa.  Adek sudah berusaha tapi mungkin usahanya belum maksimal.  Insya Allah di kemudian hari adek akan memetik buah dari usaha adek."

"Jangan lupa berdoa ya nak..... Dekati terus Allah.  Karena hanya Allah yang bisa membuat adek berhasil.  Saat adek ga bisa mengerjakan soal, mintalah pertolongan Allah.  Semoga Allah memberikan kemudahan."

Terakhir katakan pada anak :
"Apapun hasil yang adek dapat, mama selalu bangga sama adek.  Terima kasih atas usaha adek belajar giat menghadapi UN.  Doa mama selalu bersama adek..... "

Yang juga penting kita lakukan saat anak menghadapi UN adalah menjaga kesehatan anak. Jangan kebanyakan les yang bisa bikin anak kelelahan, jaga makanan anak dan jangan lupa diberi vitamin. Supaya saat UN kondisi anak kita fit sehingga mampu berpikir dengan baik.