Berbagai upaya dilakukan ibu untuk "memaksa" anaknya makan. Mulai dari diberi vitamin, suplemen makanan, junk food, dll. Seringkali ibu mengalami stress yang besar karena anaknya ga mau makan. Akibatnya anak juga ikut-ikutan stress dan semakin tidak mau makan.
Saya juga mengalami problem itu. Anak kedua saya susah sekali makan. Maunya cuma makan pakai nasi, garam, dan kerupuk. Malah kadang-kadang dia minta makan pakai ikan asin. Anak saya tidak senang makan dengan lauk pauk yang bermacam-macam.
Akhirnya saya mencoba memberi makanan yang di dalamnya sudah terdapat karbohidrat, protein dan sayur. Misalnya macaroni schotel, pastel tutup, pepes nasi. Di dalam makanan tersebut sudah terdapat karbohidrat (dari macaroni, pasta, kentang, dan nasi), protein (dari daging sapi atau ayam, telur, susu, keju, jamur), dan serat dari sayuran (misalnya wortel, brokoli, bayam, buncis).
Mungkin bunda pikir repot yah membuat makanan seperti macaroni schotel, pastel tutup dan pepes nasi. Saya punya resep sederhana yang gampang sekali membuatnya. Telur dadar yang saya isi dengan nasi dan sayuran. Komplit kan ? Ada karbohidrat, protein, dan serat. Menyuapi anak dengan makanan-makanan tersebut juga tidak sulit. Cukup dipotong kecil-kecil lalu ditusuk dengan garpu atau tusuk gigi. Jadi anak tidak merasa seperti sedang makan. Tetapi gizinya sudah terpenuhi.
Tetapi jangan keseringan memberi makanan seperti itu ya.... Karena bagaimanapun juga anak kita perlu dilatih untuk makan secara "normal" seperti yang kita makan sehari-hari.
Mungkin bunda pikir repot yah membuat makanan seperti macaroni schotel, pastel tutup dan pepes nasi. Saya punya resep sederhana yang gampang sekali membuatnya. Telur dadar yang saya isi dengan nasi dan sayuran. Komplit kan ? Ada karbohidrat, protein, dan serat. Menyuapi anak dengan makanan-makanan tersebut juga tidak sulit. Cukup dipotong kecil-kecil lalu ditusuk dengan garpu atau tusuk gigi. Jadi anak tidak merasa seperti sedang makan. Tetapi gizinya sudah terpenuhi.
Tetapi jangan keseringan memberi makanan seperti itu ya.... Karena bagaimanapun juga anak kita perlu dilatih untuk makan secara "normal" seperti yang kita makan sehari-hari.